Pada suatu waktu, sekelompok katak sedang bepergian melewati kayu-kayu, dua dari katak-katak tersebut jatuh kedalam lubang yang dalam. Ketika katak-katak lainnya melihat seberapa dalam lubang itu, mereka berkata sudah tidak ada harapan. Kedua katak yang terjatuh itu mengacuhkan perkataan teman-temannya dan mencoba untuk melompat keluar dari lubang itu dengan sekuat tenaga. Katak-katak lainnya tetap mengatakan kepada mereka untuk berhenti melompat karena sudah tidak ada harapan. Akhirnya salah satu katak yang terjatuh itu mendengarkan perkataan temannya dan akhirnya menyerah. Dia terjatuh dan mati.Lalu gimana dengan katak yang satunya lagi???
Katak satunya pun melanjutkan usahanya untuk melompat keluar dari lubang. Sekali lagi, suara riuh teriakan katak-katak diatas menyuruhnya untuk berhenti dan menunggu kematian. Tetapi katak tersebut mencoba lebih keras dan akhirnya dia berhasil melompat keluar dari lubang tersebut. Saat katak tersebut sudah berada diatas, teman-temannya berkata,”apakah kamu mendengar kami?”. Sang katak menjelaskan kepada mereka bahwa dia tadi tuli. Dia malah berpikir bahwa teman-temannya memberikan harapan.
Hikmah yang bisa diambil dari cerita diatas adalah:
1. Ada kekuatan hidup dan mati di lidah. Sebuah kata harapan untuk seseorang yang sedang terjatuh bisa mengangkat dan menolongnya untuk melewati saat-saat itu.
2. Sebuah kata yang “negatif” kepada seseorang yang sedang terjatuh bisa membunuh orang tersebut.
Berhati-hatilah terhadap apa yang anda katakan. Kekuatan kata-kata, kadang sulit untuk dipahami bahwa sebuah kata harapan bisa hilang. Setiap orang bisa mengucapkan kalimat yang bisa mencuri semangat seseorang untuk melewati masa-masa sulit. Orang yang spesial adalah seseorang yang meluangkan waktunya untuk menyemangati satu sama lain
08 Februari 2009
Dua Katak
Sesuatu Yang Sederhana
Seorang bocah yang menjual majalah untuk sekolah berjalan menuju rumah yang sangat jarang dikunjungi orang. Rumah itu sangat tua dan mulai rusak dan pemilik rumah itupun hampir tidak pernah keluar rumah. Ketika sang pemilik rumah itu keluar dia tidak menyapa tetangganya atau hanya memandang kepada mereka
Bocah tadi mengetuk pintu dan menunggu, berkeringat karena takut dengan orang tua pemilik rumah itu. Sebenarnya orang tua bocah itu telah mengingatkannya untuk menjauhi rumah itu, serta tetangga yang lainnya pun mengingatkan hal yang sama kepada anak mereka.
Ketika sang bocah hendak pergi, pintu pun perlahan terbuka. “Apa yang kau inginkan?” ucap si pemilik rumah. Bocah itupun ketakutan, tapi dia punya tanggungan yang harus dipenuhi untuk kesekolah.
“Uh, Pak, Ehm saya ingin menjual majalah dan ehm saya kira mungkin anda tertarik ingin membeli salah satunya.” Orang tua itu hanya menatap, Bocah itu bisa melirik ke dalam rumah dan melihat ada koleksi boneka-boneka anjing di sekitar perapian. “Apakah anda mengkoleksi anjing?” bocah itu bertanya. “Iya, saya mempunyai banyak koleksi dirumah saya, mereka adalah keluargaku, hanya mereka yang kupunya.” Si bocah itu merasa kasihan, seperti yang terlihat orang tua itu sungguh kesepian. “Saya punya majalah untuk kolektor, sangat bagus untuk anda, saya juga punya majalah tentang anjing, saya tahu anda suka anjing.” Orang tua itu bersiap menutup pintu dan berkata, “Tidak nak, aku tidak butuh majalah apapun, selamat tinggal.”
Bocah itupun sedih karena dia tidak akan berhasil memenuhi target penjualan majalahnya. Dia juga sedih dengan orang tua itu yang begitu kesepian dirumah yang besar. Bocah itu pulang ke rumah dan dia mendapatkan ide. Dia mempunyai boneka anjing kecil yang dia dapatkan beberapa tahun lalu dari bibinya. Mainan itu sudah jarang dimainkan semenjak memiliki anjing sungguhan dan keluarga yang besar. Bocah itupun kembali ke rumah orang tua itu dengan membawa mainannya. Dia pun mengetuk pintu dan kali ini orang tua itu datang ke pintu. “Nak, kupikir aku sudah bilang kalau tidak butuh majalah.”
Tidak Pak, saya tahu itu, saya membawakan hadiah untuk anda.” Bocah itu mengulurkan tangannya dan memberikan hadiah kepada orang tua itu. Lalu orang tua itu memperhatikan hadiah tersebut sambil berkata,”Ini adalah seekor Golden Retriever, Aku punya satu dirumah, ini untukmu.” Orang tua tersebut terharu, tak seorangpun yang pernah memberikannya hadiah dan menunjukkan kebaikannya. “Nak, kamu memiliki hati yang besar, kenapa kamu melakukan ini?” Bocah itu tersenyum kepada orang tua itu dan berkata, “karena anda suka anjing.”
Semenjak hari itu, orang tua tersebut mulai sering keluar rumah dan menyapa orang-orang disekitarnya. Dia dan bocah itu menjadi teman. Bocah itu juga membawa anjingnya untuk menemui orang tua itu setiap minggunya.
Sesuatu yang sederhana merubah kehidupan mereka selamanya.
oleh : by Jackie Sagner
01 Februari 2009
Berapa Usia Anda?
Jika kita tidak menyadari berapa umur kita, beberapa dari kita akan terlihat sangat muda dan beberapa dari kita akan terlihat sangat tua.
Terkadang, orang-orang menggunakan umur sebagai alasan utama. “Saya terlalu tua untuk memulai sesuatu yang baru”, atau, “Saya sudah tidak bisa belajar pada usia saya saat ini”. Lainnya berpikir untuk melakukan sesuatu untuk membuat prestasi terbaik dalam hidupnya.
Sebagai contoh, Kolonel Sanders yang mulai me-waralabakan usaha ayam gorengnya pada usia 65 tahun. Hingga usia 90 tahun, beliau sudah melakukan perjalanan sejauh 250,000 mil setiap tahunnya untuk mengunjungi KFC. Dia tidak hanya luar biasa dan pelopor, tapi yang lebih penting adalah dia tidak mau berdiam diri karena aspek umur.
Dimulai dari Sikap, sikap menjadi keyakinan dan keyakinan menjadi dasar suatu tindakan.
Berapapun usia anda itu tidaklah masalah;
Yang terpenting adalah bagaimana dan apa yang anda pikirkan,
dan juga apa yang anda lakukan adalah yang terpenting
Gunung
Seorang anak dan Ayahnya sedang berjalan-jalan di gunung. Tiba-tiba sang anak terjatuh dan spontan berteriak, “AAAhhhhhhhh!!!”. Tapi sang anak terkejut ketika ada suara yang sama yang berasal dari sebuah tempat di gunung itu, “AAAhhhhhhhh!!!”.
Dengan terheran-heran iya lalu berteriak,”Siapa kamu?”.
Lalu dia mendapat balasan,”Siapa kamu?“.
Berikutnya dia berteriak lagi,”Aku pengagummu!”
Suara itupun terdengar lagi,”Aku pengagummu!”
Dengan respon marah, sang anak berteriak,”Pengecut!”
Dan sekali lagi dia mendapat jawaban yang sama,”Pengecut!”
Sang anak menatap sang ayah dan bertanya,”Apa yang terjadi?”
Sang ayah tersenyum dan menjawab,”Perhatikan Nak.”
Sang ayah berteriak, “Kamulah sang juara!”
Suara yang sama kembali terdengar,”Kamulah sang juara!”
Sang anak terkejut tapi tetap tidak mengerti apa yang terjadi. Sang ayah pun menjelaskan,”Orang-orang menyebut hal tadi dengan ECHO, tapi ini kehidupan. Memberikan kembali apa yang telah kamu katakan dan lakukan. Kehidupan kita adalah refleksi dari tindakan kita. Jika kamu menginginkan cinta di dunia, maka buatlah cinta dihatimu. Jika kamu ingin lebih berkompeten di kelompokmu, maka tingkatkan kompetensimu. Ini semua berhubungan dengan segalanya, pada semua aspek hidup. Kehidupan akan memberimu kembali apa yang telah kamu berikan untuknya.”
KEHIDUPAN ANDA BUKANLAH SUATU KEBETULAN. ITU ADALAH REFLEKSI MU!
22 Januari 2009
Segala Sesuatunya Tidak Seperti Kelihatannya
Kisah tentang dua malaikat yang sedang dalam perjalanan. Malam itu mereka berhenti untuk menghabiskan malam di sebuah rumah milik keluarga yang kaya raya. Keluarga itu sangat kejam dan menolak dua malaikat itu menempati ruang tidur tamu. Sebaliknya, dua malaikat itu hanya diberikan sebuah tempat yang kecil di ruang bawah tanah yang dingin. ketika malaikat itu menyiapkan tempat tidur mereka dilantai, salah satu dari mereka melihat ada lubang di dinding rumah itu dan segeralah ia memperbaikinya. Malaikat yang lebih muda bertanya, kenapa? dan malaikat yang lebih tua menjawab,”Segala sesuatunya tidak seperti yang kelihatannya.”
Pada keesokan malamnya, mereka menginap di rumah sebuah keluarga yang sangat miskin, tapi mereka adalah sepasang suami istri petani yang ramah. Setelah makan malam bersama, sepasang suami istri itu mempersilahkan malaikat untuk beristirahat ditempat tidur mereka supaya dua malaikat itu bisa tidur dengan nyenyak. Ketika matahari sudah terbit di pagi itu, dua malaikat itu melihat sepasang suami istri tersebut sedang menangis. Sapi satu-satunya yang menjadi sumber pendapatan mereka dari penjualan susunya, tergeletak dan mati.
Sang malaikat yang lebih muda bertanya,”kenapa engkau sungguh tega membiarkan hal ini terjadi?” Keluarga yang kemarin memiliki segalanya dan engkau malah membantunya. Keluarga kedua, tidak punya apa-apa tapi mau berbagi dengan kita dan engkau membiarkan sapi mereka mati.”
“Segala sesuatunya tidak seperti kelihatannya”, Jawab malaikat yang lebih tua. “Ketika kita menginap diruang bawah tanah, aku tahu bahwa ada emas didalam lubang dinding rumah itu. Karena sang pemilik rumah itu tidak mau berbagi, maka aku menambal lubang didinding itu agar sang pemilik rumah tidak menemukan emas itu. Dan tadi malam ketika kita tidur ditempat tidur sepasang suami istri petani ini, malaikat kematian datang untuk menjemput sang istri. Aku menukarnya dengan sapinya.
“Segala sesuatunya tidak seperti kelihatannya.”
19 Januari 2009
Pasir dan Batu
Alkisah tentang dua orang yang bersahabat sedang berjalan melewati gurun pasir. Diperjalanan mereka terlibat argumentasi satu sama lain dan salah seorang dari mereka menampar wajah sahabatnya. Sang sahabat yang ditampar wajahnya pun kesakitan, tapi tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia lalu menulis diatas pasir yang berbunyi,”HARI INI SAHABATKU MENAMPAR WAJAHKU.”
Mereka tetap berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah danau dan memutuskan untuk mandi disana. Tiba-tiba, sahabat yang ditampar tadi terjebak di pasir hidup dan mulai tenggelam, tetapi dia diselamatkan oleh sahabatnya yang tadi menamparnya. Setelah diselamatkan sahabatnya, dia lalu menulis sesuatu diatas batu, yang berbunyi,”HARI INI SAHABATKU MENYELAMATKAN HIDUPKU.”
Lalu sahabatnya bertanya,”Setelah aku menyakitimu, kamu menulis dipasir. Dan sekarang kamu menulis diatas batu. Kenapa?”
Sahabatnya menjawab,”Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya dipasir yang mana akan disapu oleh angin maaf. Tetapi, ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik untuk kita, kita harus mengukirnya diatas batu, yang mana tidak akan pernah terhapus oleh angin.”
Belajarlah untuk menulis kekecewaanmu di pasir dan mengukir kebahagiaanmu diatas batu
Rumah Seribu Cermin
Dahulu kala, disebuah desa yang sangat jauh ada tempat terkenal yang bernama rumah seribu cermin. Seekor anjing kecil yang periang mempelajari tentang rumah itu dan memutuskan untuk mengunjunginya. Setibanya disana, dia menaiki tangga rumah tersebut dengan melompat riang menuju pintu rumah itu. Telinganya terangkat tinggi dan ekornya bergoyang sangat cepat.
Dia terkejut ketika memasuki rumah itu dan melihat seribu anjing kecil dan periang lainnya dan ekor yang bergoyang secepat ekornya. Dia pun tersenyum dan seketika dibalas juga dengan senyuman hangat dan bersahabat seribu ekor anjing lainnya dirumah itu. Ketika dia meninggalkan rumah itu, dia berkata pada dirinya, “sebuah tempat yang indah. Aku akan kembali lagi untuk berkunjung lebih sering.”
Ditempat yang sama, seekor anjing kecil yang terlihat tidak bahagia seperti anjing yang pertama memutuskan untuk mengunjungi rumah tersebut. Dengan perlahan dia menaiki tangga rumah tersebut dengan kepala menunduk. Ketika dia memasuki rumah tersebut, dia melihat seribu ekor anjing yang juga terlihat tidak bahagia memandanginya. Dia pun menggonggong dan seketika dibalas pula oleh gonggongan seribu ekor anjing dirumah itu. Ketika dia meninggalkan tempat tersebut, dia berkata pada dirinya, “ini tempat yang mengerikan dan aku tidak akan pernah kembali lagi kesini.”
Semua wajah di dunia ini adalah cermin. Seperti apakah bayangan wajah orang yang anda temui?
Tetaplah optimis dan positif dalam menjalani hidup!
